BPI untuk Siswa Medan
Oleh Hadi Teguh Yudistira
Di kota besar belum menjadi jaminan terhadap penduduk Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk membiayai kehidupan keluarga. Hal ini terbukti di kota Jakarta , Medan dan kota besar yang lain.
Tanjung Sari merupakan salah satu daerah pinggiran kota Medan (sudah mendekati Kabupaten Deli Serdang). Di pasar 2 Tanjung Sari hidup sebuah keluarga yang kepala rumah tangganya memiliki pekerjaan menarik becak. Di keluarga ini di anugerahi anak yang bernama Beni Zulfikar yang diamanahi untuk sekolah di SMK Telkom. Diawali oleh ikutnya Beni dalam proses seleksi SMK Telkom yang mempunyai system pendidikan yang baik, dan ternyata Beni lulus dalam seleksi tersebut. Hal ini menjadi anugrah bagi keluarga Beni karena kedua orang tua Beni berharap Beni bisa mendapat keahlian dari SMK Telkom yang notabene sekolah yang siap memberikan segudang keahlian dalam dunia telekomunikasi. Tapi di posisi lain keluarga tersebut kebingunan untuk membiayai sekolah Beni yang setiap bulannya untuk membayar uang SPP sebesar sekitar Rp 400.000,-.
Demi untuk pendidikan Beni, sang Ayah berusaha untuk mencari penghasilan dengat menarik becak sampai malam hari (hal ini terbukti ketika perwakilan dari Perpika, Hadi Teguh Yudistira, datang ke rumah Beni pada malam hari yang menerima adalah ibunda Beni dan ayah Beni tidak di rumah karena masih berada di luar rumah) serta sang Ibu berusaha menambah penghasilan dengan menjadi pembantu di perumahan yang dekat dengan rumah Beni.
Ketika saudara Hadi memberikan beasiswa Perpika, ibunda Beni sangat senang sekali dan beliau berharap ada kelanjutan dari beasiswa ini. Beliau berharap tahun depan Beni bisa mendapatkan beasiswa ini.
Untuk pihak kedua yang mendapat beasiswa dari Perpika adalah salah satu warga yang berdomisili di Kampung Ladang Bambu (berada di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara). Di kampong Ladang Bambu terdapat sebuah Yayasan pendidikan yang ditujukan kepada orang-orang yang tidak mampu di daerah Kampung Ladang Bambu. Yayasan ini merupakan hasil wakaf dari seseorang yang dermawan. Dan yang menjadi penangung jawab dari yayasan ini adalah Bapak Basyaruddin J. Ketika ditanya mengenai murid di yayasan ini, Baspak Basyaruddin menjelaskan bahwa yayasan ini memberikan pendidikan yang memadai kepada anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Dari pengakuan beliau, di daerah kampong Ladang Bambu masih banyak terdapat keluarga yang tidak mampu. Oleh karena itu, yayasan ini berdiri untuk memberikan fasilitas pendidikan kepada warga kampong Ladang Bambu. Beasiswa yang kedua dari Perpika bekerja sama dengan yayasan ini untuk menyampaikan kepada salah satu siswa nya yang berhak mendapat beasiswa ini.
Dikarenakan tidak memiliki banyak kesempatan, Hadi menitipkan beasiswa yang kedua ke salah satu anggota keluarga saudara Hadi yang dipercayai. Orang tersebut adalah kakanda Hadi yang bernama Devianti. Saudari Devianti yang selanjutnya akan menyerahkan beasiswa Perpika kepada Bapak Basyaruddin.
Nb. Maaf, penulis lupa nama yayasan di Kampong Ladang Bambu tersebut dan dokumentasi hanya ada pada beasiswa yang pertama (Beni Zulfikar)
Ibunda Beni Zulfikar (Erlinda) sedang menandatangani tanda terima beasiswa Perpika. Terlihat disebelah kanan adalah adik Beni.
Ibunda Beni menerima beasiswa Perpika yang diserahkan oleh Saudara Hadi (mahasiswa Konkuk University)
Rumah Beni Zulfikar












?????…
??yessy???..
beasisswa yang diberikan ke hadi ini apakah beasiswa selama dia menjalani sekolah di SMK Telkom, atau beasiswa ke korea??
apakah untuk mendapat beasiwa di korea TOEFL juga menajdi syarat??
Beasiswa itu tidak diberikan ke Hadi, tetapi OLEH Hadi. Beasiswa ini hanya sebatas bantuan pendidikan Perpika kepada yang bersangkutan dan hanya sekali saja diberikan.
assalam mualaikum perpika,
sy minta tolong ada beasiswa di KOREA UNIVERSITY?FULL KLAU BISA?
thanks ya
waalaikumsalam Wr Wb
Leave your response!
Radio PPI Dunia
Categories
Archives
Meta
Network
Tags
Recent Comments
Most Commented
Recent Posts